8.02.2020

Saya terima baik buruknya, dengan segala kerumitannya, dan akan kemungkinan-kemungkinan yang baik di masa depan, tunai.

Semua orang punya masa lalu, bagaimanapun warna, bentuk, dan ceritanya. Paling ngga itu menandakan bahwa kita benar-benar hidup dan masih manusia, bukan sosok khayalan yang dimanifestasi dalam otak seseorang atau robot canggih buatan ilmuwan dalam suatu lab (kebanyakan baca novel sci-fi). Lagipula ngga tepat rasanya kalau masa lalu jadi satu-satunya tolak ukur pribadi seseorang, terlalu banyak variabel yang harus dipertimbangkan, dan kebetulan gue juga bukan ahlinya dalam menilai orang lain.